Metode System Rice Of Intensification(SRI) dengan APPO TK 80 I

Posted on

Indonesia yang merupakan salah satu dari negara yang terlibat dalam sistem perdagangan bebas harus memiliki strategi yang jitu untuk menghadapi era yang sarat dengan kompetisi tersebut. Strategi tersebut tentunya disusun dan dibuat berdasarkan pada kemampuan bangsa Indonesia dengan memanfaatkan segala sumber daya yang dimiliki, baik sumber daya alam maupun sumberdaya manusianya. Mengingat republik ini merupakan negara agraris, maka hal utama yang perlu dipikirkan dalam menyusun dan menentukan strategi tersebut adalah memperkuat sektor pertanian sebagai unsur industri primer (pertanian, kehutanan, dan perikanan). Hal ini disebabkan dengan tangguhnya sektor pertanian akan menghasilkan ketahanan pangan yang mengakibatkan bangsa ini mempunyai modal dasar yang kokoh untuk menangkal segala gangguan, tantangan, dan ancaman baik yang bersifat lokal maupun global. Di samping itu, tentunya juga harus dibarengi dengan peningkatan kualitas sumber daya manusianya.

Selanjutnya dapat dikemukakan bahwa berdasarkan pengalaman di Inggris, Jepang, dan Korea Selatan penurunan jumlah tenaga kerja pada industri primer tergantung pada peningkatan jumlah tenaga kerja pada industri sekunder ( pertambangan, konstruksi, dan manufaktur) serta industri tersier yang meliputi listrik, gas, air dan uap, transportasi, komunikasi, perdagangan besar dan eceran, keuangan, ansuransi, perumahan, jasa, pemerintah, dan lain-lainnya. Berdasarkan hal tersebut jika sektor pertanian sudah tangguh, efisien, dan modern maka secara otomatis akan memberikan dukungan bagi pengembangan seluruh sektor industri lainnya, yakni dengan cara mengalihkan sumber daya tanaga kerja yang tadinya pada sektor pertanian (industri primer) untuk bekerja di sektor industri sekunder dan tersier.

Salah satu cara untuk memperkuat sektor pertanian tersebut yaitu dengan menggunakan teknologi pertanian. Teknologi pertanian sangat bermanfaat. Seperti contoh di daerah Tasimalaya, Jawa Barat produksi padi tahun 2007 sebanyak 10,04 juta ton gabah kering giling. Jumlah ini meningkat dibanding tahun sebelumnya yang sebanyak 9,4 juta ton GKG. Peningkatan produksi tersebut disebabkan karena semakin banyaknya teknologi pertanian diterapkan oleh petani di lapangan. Salah satu teknologiyang dapat meningkatkan produksi adalah dengan menggunakan metode System of Rice Intensification(SRI).System of rice intensification (SRI) merupakan salah satu pendekatan dalam praktek budidaya padi yang menekankan pada manajemen pengelolaan tanah, tanaman dan air melalui pemberdayaan kelompok dan kearifan lokal yang berbasis pada kegiatan ramah lingkungan.

Penerapan gagasan SRI berdasarkan pada enam komponen penting

1. Transplantasi bibit muda,

2. Bibit ditanam satu batang,

3. Jarak tanam lebar,

4. Kondisi tanah lembab (irigasi berselang),

5. Melakukan pendangiran (penyiangan),

6. Hanya menggunakan bahan organik (kompos) dapat dibantu dengan menggunakan APPO (Alat Pengolah Pupuk Organik).

Hasil penerapan gagasan SRI di lokasi penelitian (Kabupaten Garut dan Ciamis), menunjukkan bahwa :

1. Budidaya padi model SRI telah mampu meningkatkan hasil dibanding budidaya padi model konvensional,

2. Meningkatkan pendapatan,

3. Terjadi efisiensi produksi dan efisiensi usahatani secara finansial,

4. Pangsa harga pasar produk lebih tinggi sebagai beras organik.

Produksi padi dengan metode SRI bisa mencapai 6,5-12 ton GKG per hektar. Angka ini akan sangat membantu pencapaian target Peningkatan Produksi Beras Nasional (P2BN) di daerah. Selain hasil produksinya tergolong tinggi harga beras hasil SRI organik pun mahal, paling tidak Rp 8.000 per kilogram. Ini merupakan cara untuk mensejahterakan petani.

Sekalipun demikian, konsep SRI masih belum dapat diterima serta masih menimbulkan polemik dan kontroversial dalam penerapannya hampir di semua tempat maupun di lembaga terkait, termasuk IRRI sebagai Lembaga Penelitian Padi Internasional. Namun dengan meningkatnya harga pupuk dan pestisida kimia serta semakin rusaknya lingkungan sumberdaya telah mendorong petani di beberapa tempat mempraktekan sistem pendekatan SRI. Peluang pengembangan SRI ke depan juga didukung oleh tuntutan globalisasi dan konsumen internasional terhadap budidaya padi ekologis ramah lingkungan, kemudian dengan sistem penyuluhan yang mudah dimengerti, juga terkait dengan kondisi peningkatan semua input produksi serta kebutuhan produk organik. Kendala pengembangan dalam skala luas, terkait dengan ketersediaan bahan-bahan organik, tenaga kerja tanam model SRI, serta kemauan dari petani sendiri.

Dengan adanya Konsep SRI ini diharapkan, sektor pertanian akan menjadi lebih tangguh dan akan menghasilkan ketahanan pangan yang mengakibatkan bangsa ini mempunyai modal dasar yang kokoh untuk menangkal segala gangguan, tantangan, dan ancaman baik yang bersifat lokal maupun global.

Sumber : miswinda.wordpress.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *